Oleh: Rizky Dhito Hutomo
1102413104
Mimilih
suatu lingkungan yang tentram
merupakan idaman bagi semua orang yang tinggal di Planet Bumi ini. Mengapa
tidak? Karena lingkungan yang sesuai dengan pilihan hati akan menimbulkan pola kehidupan yang
teratur dan lebih baik. Saat kita berada
pada keadaan seperti apapun akan terasa
baik-baik saja karena sudah merasakan nyaman sejak dari awal. Memang
menciptakan lingkungan yang harmonis di suatu daerah tidaklah mudah seperti sedang mengedipkan mata. Butuh perjuangan yang serius agar semua
orang yang terlibat di daerah dan lingkungan tersebut bisa mempunyai tujuan dan
rasa saling menjaga satu sama lain. Untuk bisa memunculkan rasa tersebut tidak hanya dengan teori tapi memang
harus dengan praktek agar tahu betul bagaimana cara dalam hidup bersosial.
Lingkungan yang
tentram itu sebenarnya seperti apa? Apakah hidup
berkecukupan bisa dikatakan tentram?
Atau mempunyai banyak waktu
luang? Tapi kita mempunyai jawaban sendiri-sendiri terhadap pertanyaan
diatas. Disaat manusia berada dalam
suatu perkumpulan dan mereka melakukan proses interkasi yang nyata
dengan manusia lainnya maka setiap manusia harus bisa menerapkan jiwa social
yang ada pada dirinya untuk saling
menghargai sesamanya. Bentuk dari
sosialisai bukan hanya berkomunikasi dengan lancar, tapi juga dengan saling
menjaga lingkungan sekitarnya agar tetap terjaga ketentramannya. Karena itu
akan berdampak positif bagi sebuah lingkungan yang warganya atau orang-orangnya
sama-sama mempunyai rasa kepedulian terhadap lingkungan yang tentram. Jika
lingkungan sudah terbentuk seperti itu,
proses berlangsungnya kegiatan warga akan terasa lebih nyaman aman dan tentram.
Sama
halnya dalam sebuah organisasi, menciptakan lingkungan yang tentram membutuhkan
seorang pemimpin untuk mampu
memberikan contoh kepada warganya agar mau untuk membangun dan
menciptakan lingkungan tentram tersebut. Karena memang kebanyakan orang mau
bekerja itu jika ada yang megawali terlebih dahulu baru kemudian ikut melakukannya, apa lagi kegiatan social
seperti itu yang bukan merupakan pekerjaan pokok bagi sebagian orang yang sibuk
di kantornya.Sebagian orang beranggapan bahwa masih banyak hal-hal yang perlu
dikerjakan dibandingkan memikirkan lingkungan sekitanya. Mungkin yang
beranggapan seperti itu adalah orang yang berfikir materialistis, karena
dengan peduli terhadap lingkugannya ia
tidak medapatkan upah atau hasil untuk
dirinya, berbeda dengan menyelesaikan
bisnisnya atau pekerjaan lain
yang bisa menciptakan uang dan memenuhi kebutuhannya. Jika sudah seperti itu
kembali lagi kepada kesadaran masing-masing orang dan jiwa social orang orang
itu sendiri. Kita tidak bisa memaksakan kehendak orang yang mempunyai pemikiran
seperti itu.
Untuk
saat ini kita manusia-manusia yang sudah paham dan peduli terhadap lingkungan
social kita, mulailah untuk mempelopori teman-teman, tetangga dan kelompok-
kelompok lainnya untuk bisa membangun lingkungan yang tentram. Disini kita
juga sedang belajar tentang sejauh mana
kita mempunyai kesadaran untuk bersosialisasi dan peduli terhadap lingkungan
sekitar. Bukan justru sebagai generasi muda
kita hanya memanfaatkan kekayaan alam untuk melakukan hal yang tidak
berguna tanpa peduli dan mau merawatnya. Mulai ajak lah satu persatu orang untuk menyadari
bahwa lingkungan sekitarpun membutuhkan perhatian agar indah,sehat dan tentram,
seperti dalam sebuah pepatah yaitu “Kebersihan Sebagian Dari Iman”
dan itu berarti kita diwajibkan untuk
hidup bersih dari mulai diri kita sampai peduli terhadap lingkungan sekitar
kita.
like this (y)
BalasHapusbagus :)
BalasHapusrumah kita sendiri.....hihihi
BalasHapuslingkungan yang tenteram dimana kita bisa beradaptasi dengan lingkungan yang kita tempati #comfort
masih ada penggunaan kalimat yang tidak efektif
BalasHapuskegiatan sosial susah diterapkan diperkotaan
BalasHapus