Oleh Novita Handayani
1102413110
Pendidikan agama di lingkungan keluarga sangat
besar peranannya dalam pembentukan kepribadian anak. Karena dilingkungan
keluargalah anak pertama kali menerima pendidikan yang dapat mempengaruhi
perkembangan anak selanjutnya. Agar anak memiliki kepribadian yang baik dan
terhindar dari pelanggaran-pelanggaran moral, maka perlu adanya pembinaan agama sejak dini kepada anak dalam
keluarga. Proses pembinaan nilai-nilai agama
dalam membentuk kepribadian anak dapat dimulai sejak anak lahir sampai dewasa.
Pertama yang harus ditanamkan adalah nilai-nilai agama yang berkaitan dengan keimanan, sehingga anak meyakini adanya
Allah dan dapat mengenal Allah dengan seyakin-yakinnya. Bersamaan dengan itu,
anak juga dibimbing mengenai nilai-nilai moral, seperti cara bertutur kata yang
baik, berpakaian yang baik, bergaul dengan baik, mengajarkan nilai-nilai
kejujuran, kedailan, hidup sederhana, sabar, dan lain lain.
Namun
hal tersebut dirasa berbanding terbalik dengan keluargaku. Aku mempunyai
keluarga yang aku rasa sangat kurang pengetahuannya tentang agama.
Dulu waktu aku kecil, aku ikut mengaji, tiap adzan maghrib berkumandang selalu datang ke mushola, sering ikut pengajian ibu, dan masih banyak lagi. Tapi semenjak aku SMP, aku sudah tidak pernah melakukan semua hal itu, termasuk sholat. Aku hanya sholat ketika aku sedang ada masalah. Ibu selalu menegur, beliau selalu bilang “jangan hanya ingat Allah ketika kamu jatuh saja”. Dan aku hanya menjawab “percuma sholat kalo hati masih ga ikhlas bu”. Ibu hanya bisa diam dan pasrah. Namun aku tahu, sebenarnya dibalik diamnya ibu, beliau sangat kecewa padaku yang sampai pada waktu itu belum sadar juga tentang pentingnya shalat. Sebanyak apapun ibu menyuruhku shalat, sebanyak itu pula aku menolaknya. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu. Tapi satu prinsipku, kelak akan ada saat dimana aku sadar bahwa agama adalah yang paling penting dan utama, akan ada saat dimana aku takut dan resah ketika aku meninggalkan shalat walau hanya sekali saja.
Dulu waktu aku kecil, aku ikut mengaji, tiap adzan maghrib berkumandang selalu datang ke mushola, sering ikut pengajian ibu, dan masih banyak lagi. Tapi semenjak aku SMP, aku sudah tidak pernah melakukan semua hal itu, termasuk sholat. Aku hanya sholat ketika aku sedang ada masalah. Ibu selalu menegur, beliau selalu bilang “jangan hanya ingat Allah ketika kamu jatuh saja”. Dan aku hanya menjawab “percuma sholat kalo hati masih ga ikhlas bu”. Ibu hanya bisa diam dan pasrah. Namun aku tahu, sebenarnya dibalik diamnya ibu, beliau sangat kecewa padaku yang sampai pada waktu itu belum sadar juga tentang pentingnya shalat. Sebanyak apapun ibu menyuruhku shalat, sebanyak itu pula aku menolaknya. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu. Tapi satu prinsipku, kelak akan ada saat dimana aku sadar bahwa agama adalah yang paling penting dan utama, akan ada saat dimana aku takut dan resah ketika aku meninggalkan shalat walau hanya sekali saja.
Minimnya
tentang agama di keluargaku, bukan berarti membuat keluargaku dianggap sebagai
keluarga yang tidak bermoral. Keluargaku tahu cara bertutur kata yang baik,
berpakaian yang baik, bergaul dengan baik, mengajarkan nilai-nilai kejujuran,
kedailan, hidup sederhana, sabar, dan lain lain. Namun menurutku itu semua
masih kurang lengkap tanpa adanya agama.
Karena bagiku, agama adalah tiang,
fondasi, kunci untuk kita meraih kehidupan yang indah di dunia dan di akhirat. Inilah
yang membuatku merasa bahwa pendidikan agama
di rasa sangat penting diterapkan di keluargaku.
“Kita membangun kehidupan dunia ini dengan merobek-robek agama kita. Pada akhirnya, baik agama maupun dunia yang kita bangun tak lagi bersisa.” – Ibrahim bin Adham
BalasHapusceritanya bagus :')
BalasHapusmudah dimengerti juga kata-katanya ;)
agama itu memang perlu dan sangat penting untuk tiap individu.. alangkah lebih baiknya jika kita bisa mendalaminya lebih jauh :)
BalasHapusteman juga bisa mengayomi agamamu
BalasHapus